5 Fakta Akigahara, Hutan Berhantu di Kaki Gunung Fuji Jepang

Uncategorized84 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta – Jepang memiliki tradisi bakar diri yang disebut harakiri, yaitu samurai menggantung diri di tubuh mereka. Salah satu tempat yang paling sering digunakan untuk bunuh diri di Jepang adalah hutan. Akigahara Terletak di kaki Gunung Fuji. Tercatat rata-rata 100 mayat ditemukan di hutan rimbun ini setiap tahunnya.

Berikut 5 fakta Hutan Akigahara yang bisa disimak seperti dilansir mentalfloss.com.

1. Pemerintah sedang melakukan berbagai operasi penyelamatan di hutan Akigahara.

Pada tahun 2017, pemerintah Jepang mencoba mengurangi jumlahnya. Bunuh diri Melalui berbagai upaya di lokasi itu. Mulai dari memasang kamera CCTV di gerbang keamanan, patroli rutin petugas, memasang pesan ‘Tentang anak-anakmu, keluargamu’ atau ‘Hidupmu adalah anugerah berharga dari orang tuamu’. Upaya ini bertujuan untuk menurunkan angka bunuh diri 30 persen pengunjung Hutan Aokigahara.

2. Akigahara menjadi terkenal karena buku yang ditulis oleh Wataru Tsurumi

Asal usul hutan ini sebagai tempat bunuh diri bukan tanpa alasan, karena sebelumnya pernah diangkat dalam buku karya penulis kontroversial bernama Wataru Tsurumi. Buku tersebut memiliki arti ‘Suicide Complete Manual’ atau ‘Panduan Lengkap Bunuh Diri’ dalam bahasa Indonesia. Dia menggambarkan Hutan Akigahara sebagai tempat yang sempurna untuk mati. Seorang petugas patroli menemukan buku tersebut dibawa oleh orang Jepang yang ingin menghancurkannya sendiri.

3. Legenda Ubasute

Ubasute dalam bahasa Jepang mengacu pada tindakan meninggalkan seseorang di tempat terpencil hingga meninggal karena kekurangan makanan dan minuman. Di Aokigahara, tidak jarang petugas polisi menemukan mayat lansia tergeletak di tanah tanpa ada tanda-tanda bunuh diri.

Praktek ubasute di Jepang dilakukan karena adanya keengganan mengurus keluarga dan biaya memberi makan para lansia di keluarga. Namun hal ini konon hanya sekedar mitos dan legenda di Jepang agar anak bisa setia kepada orang tuanya dan orang tua bisa mendidik anaknya dengan baik.

Baca Juga  Roseanne Roselany bantah, Connie Bakri mengaku dijanjikan hadiah Jeep.

4. Jangan membawa tenda camping ke Akigahara

iklan

Bagi wisatawan yang belum tahu, ada baiknya bertanya apa yang bisa masuk ke dalam hutan lebat. Mungkin berkemah adalah kegiatan yang baik untuk menyatu dengan alam, namun jika tidak ingin diusir, jangan lakukan saat memasuki hutan Akigahara. Petugas patroli menafsirkan pengunjung tenda kamp tersebut sebagai rencana bunuh diri. Mereka tidak segan-segan memanggil pengunjung yang sedang mendirikan tenda, dan sesuai pedoman, pengunjung diminta meninggalkan kawasan Akigahara secepatnya.

5. Tanda-tanda di hutan Akigahara sangat sulit ditemukan.

Jika pengunjung berencana untuk mengandalkan ponsel dan Internet untuk GPS atau kompas digital, jangan memasuki hutan. Semua akses sinyal sangat sulit di pedalaman kami, namun jika beruntung akan sulit menghubungi petugas keamanan. Jadi sebaiknya ajaklah orang-orang yang benar-benar memahami cara Hutan Akigahara. Orang sering mengikatkan pita di sekitar pohon untuk menandai jalannya agar tidak tersesat.

Pilihan Editor: Berikut 5 alasan berlibur ke Jepang.

Catatan Editor:

Jangan anggap remeh depresi. Untuk bantuan krisis mental atau pencegahan bunuh diri:

Dinas Kesehatan Jakarta menyediakan psikolog gratis kepada warga yang membutuhkan konseling kesehatan mental. Terdapat 23 slot konsultasi gratis dengan BPJS di 23 Puskesmas Jakarta.

Anda dapat berkonsultasi secara online melalui laman https://sahabatjiwa-dinkes.jakarta.go.id dan bila diperlukan dapat melakukan konsultasi lanjutan dengan psikolog di Puskesmas.

Selain Dicky Health Protection Office, Anda dapat berkonsultasi dengan institusi berikut:
Yayasan Pulih: (021) 78842580. Hotline Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan: (021) 500454, dan
LSM Jangan Bunuh Diri : (021) 9696 9293



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *