Analogi zoologi Gibran dengan pembayar pajak, Abdurahim Arsiad, kesal

Uncategorized119 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta — Pernyataan lucu disampaikan Calon Wakil Presiden atau Kawpress Nomor Urut 2 Gibran Rakabuming Raka. Abdurahim Arsiad tersinggung. Gibran mengibaratkan tax ratio dan upaya peningkatan penerimaan pajak dengan perluasan kebun binatang.

Hal itu diungkapkan Gibran saat menjawab pertanyaan Mahfud MD pada kesempatan Pemilihan Wakil Presiden Nomor 3. Debat Wakil Presiden Di Jakarta Convention Center, Senayan Jakarta, Jumat 22 Desember 2023. Putra sulung Presiden Jokowi, Mahfud MD menjadi sorotan publik saat ditanya soal rasio dan strategi Gibra meningkatkan penerimaan pajak.

“Kita tidak mau berburu di kebun binatang. Kita ingin memperluas kebun binatang. Kita menanam, menggemukkan hewan. Maksudnya apa? Membuka dunia usaha baru,” kata Gibran.

Abdurrahman Arshid tidak mau bersaing dengan binatang.

Menanggapi perdebatan Wapres, komedian yang akrab disapa Abdur itu mengungkapkan keprihatinannya dalam serangkaian cuitan di akun Twitter pribadinya (X). Menurut dia, Gibran. Tidak etis karena membandingkan pembayar pajak dengan hewan. “Dia lelah membayar pajak dan bersaing dengan hewan.Pada Sabtu, 23 Desember 2023 malam, tulis Abdurrahim Arsid dikutip dari akun X.

Hal ini sangat lumrah terjadi di kalangan wajib pajak, hal ini meresahkan saya sebagai wajib pajak. Orang pajak itu pintar, cari analogi yang lebih baiktulisnya melanjutkan komentar lain yang membela Gibran.

Meski analogi atau istilah Gibran umum digunakan dalam dunia perpajakan, Abdur mengaku tersinggung dengan pilihan metafora tersebut. Ia menanggapi komentar netizen yang mengatakan bahwa masalah Alanoji adalah hal biasa, yang penting adalah memantau kebijakan pemerintah di bidang perpajakan.

“Saya dari awal tidak pernah menolak kebijakan pemerintah soal perpajakan. Jangan anggap saya binatang karena saya sebenarnya mendukung dan taat pajak. Tahukah Anda bagaimana perasaan Anda? Membayar pajak yang tinggi lalu diperlakukan seperti binatang. . Ini sangat umum.”” dia menulis.

Baca Juga  Setelah Tuan Thirteen dan Navicula bergabung dalam proyek album Sonic/Panic, mereka lebih peduli terhadap lingkungan.

Seperti yang dikatakan Abdurahim Arciad, analogi Gibran buruk.

Meski hanya mengutarakan kekhawatirannya, para pendukung calon wakil presiden nomor urut 2 itu menyusul Gibran dengan sederet fakta lain. Misalnya kutipan media lain Anis dan Ganjar yang menyebutkan analogi yang sama mengenai wajib pajak.

iklan

“Terus kenapa? Iya masih salah. Penjelasan batinnya (dengan analogi apa pun), mohon. Tapi jangan pakai perbandingan yang tidak menyenangkan bagi masyarakat umum,” tulisnya.

Dituduh menjadi bintang film Sebuah pertanda yang sulit Hal ini semakin memperkuat pandangannya bahwa bahasa ini kurang etis: “Hanya karena saya memahami contoh yang benar maka saya memahami bahwa ini adalah cara analogi yang buruk,” tulisnya.

Bahasa mempunyai perasaan. Ini bukan “hanya”. Penonton berebut tiket, mengeluarkan banyak uang, berusaha ke tempat itu, lalu saya bawa bahan untuk mencampurkan penonton dengan binatang. Dimana etika saya sebagai orang yang menerima uang dari penonton? Ia men-tweet komik tersebut dengan tag @abdurarsyad.

Meski begitu, pada akhirnya ia merasa perdebatan di laman Twitternya melelahkan. Ia mengakhiri komentar netizen dengan meminta maaf dan menutup pikirannya.

Oke, ini sudah berakhir. Lagipula dia lelah. Saya khawatir semakin lama, manfaatnya akan semakin berkurang. Maksudku juga, teman-teman sudah paham. Selamat berlibur. Selalu simpan dalam kondisi baik. Saya sangat menyesal jika ada kata-kata yang tidak pantas.tulis Abdurahim Arsia.

Pilihan Editor: Ini Abdur Arsiad – Tanggapan Ari Cretting atas Komentar Megawati Soal Pembuat Bakso dan Orang Papua



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *