Bamsot mendorong peningkatan kemandirian pangan di pedesaan.

Uncategorized260 Dilihat

Informasi Nasional – Ketua MPR RI dan Wakil Ketua Partai Golkar Bambang Sosatio saat ini kebebasan pangan masih menjadi isu bangsa Indonesia. Pemerintah harus mengimpor pangan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. BPS menyebutkan Indonesia mengimpor 1,79 juta ton beras pada Januari hingga September 2023.

BPS memproyeksikan produksi beras dalam beberapa bulan ke depan akan berada pada titik terendah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri harus diimpor.

Hingga saat ini swasembada pangan masih sulit terwujud karena berbagai permasalahan. Pertama, konversi lahan yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk.

BPS pada tahun tersebut Pada tahun 2008, luas sawah nasional adalah 8,07 juta hektar, namun pada tahun 2019 berkurang menjadi 7,46 juta hektar. Pada tahun 2023, mayoritas produksi beras akan terkonsentrasi di pulau Jawa dan Sumatera. Kementerian Pertanian dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) memperkirakan budidaya padi rata-rata mencapai 100.000 hektar per tahun.

Di sisi lain, pertumbuhan penduduk Indonesia akan mencapai 278 juta jiwa pada tahun 2023. Selain tingkat bonus demografi yang sedang kita capai, komposisi demografi saat ini berada pada kelompok usia produktif yang membutuhkan lahan untuk perumahan atau pemukiman, pengembangan industri. dan kepentingan lainnya” Bamsoet di Kecamatan Punggalan Kabupaten Banjarnegara bersama Ikatan Mantan Kepala Desa dan Kepala Desa pada hari ke 7 kunjungan Dapil-7 Jawa Tengah dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Jawa Tengah, Rabu 24 Januari 2024

Ketua Ikatan Mantan Kepala Desa Kecamatan Punggelan dan Kepala Desa antara lain Rokhim serta ratusan mantan kepala desa dan perangkat Desa Banjarnegara Kecamatan Punggelan.

Menurut Ketua DPR RI ke-20 sekaligus Ketua Komisi III DPR RI Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, dan Keamanan ini, faktor kedua yang menghambat upaya swasembada pangan adalah angka. Faktanya, jumlah petani semakin berkurang. Profesi pertanian semakin menurun dari tahun ke tahun.

Baca Juga  K.Will kembali dengan album baru, mengundang Seo In Guk dan Ahn Jae Hyun ke reuni.

iklan

Pembaharuan petani tidak berjalan sebagaimana mestinya, karena generasi muda tidak berminat menjadi petani. Saat ini jumlah petani muda hanya 6,18 juta atau 21,9 persen dari total jumlah petani.

“Rendahnya minat generasi muda menjadi petani berbanding lurus dengan rendahnya pendapatan mereka. Melihat data BPS Juli 2023, rata-rata pendapatan petani hanya $2 juta per bulan, terendah dibandingkan sektor lain. Dalam kasus ini, dampak peningkatan urbanisasi adalah karena “kehidupan kota terlihat lebih menjanjikan,” kata Bamsott.

Ketua Dewan Pertimbangan Depinas SOKSI dan Kepala Badan Politik, Hukum, dan Keamanan KADIN mengatakan, jika tidak ada upaya serius untuk mengatasi ketidakseimbangan antara produksi pangan dan permintaan pangan, masyarakat Indonesia hanya perlu menunggu. Krisis pangan mungkin terjadi. Masalah ini tidak hanya serius di Indonesia.

Krisis pangan di Diperkirakan hal tersebut akan menjadi tantangan bagi masyarakat global hingga tahun 2040 hingga 2050. Oleh karena itu, diperlukan tindakan strategis yang terkoordinasi dari seluruh pemangku kepentingan untuk mengatasi hal ini.

“Sehingga berdampak nyata terhadap perubahan atau justru mengubah peran desa sebagai sumber ketahanan dan kemandirian pangan,” ujarnya.

Tak hanya itu, Bamsot menegaskan, upaya besar harus dilakukan untuk membangun desa. “Insentif anggaran yang diberikan melalui Program Dana Desa akan digunakan seefisien mungkin agar tepat sasaran dan menjadi katalis pembangunan desa. Salah satunya melalui pengembangan DEWA (Desa Wisata Agrowisata), DEWI (Desa Wisata Industri) ), dan program DEDI (Desa. Digital ),” kata Bamsot.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *