PLTS Terapung Sirata menjadi model transisi energi, tren Asia: dampak lingkungan masih ada.

Uncategorized122 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta

Trend Asia, sebuah organisasi masyarakat sipil di bidang transisi energi, menilai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Sirata di Purwakarta, Jawa Barat berpotensi mengganggu biota perairan. Menurut Direktur Eksekutif Trend Asia Yoon Indradi, panel surya terapung dapat mempengaruhi isi waduk Siratai yang sebenarnya merupakan ekosistem perairan terestrial. “Penempatan panel surya terapung menghalangi cahaya masuk ke dalam air dan mengganggu proses alami yang terjadi di waduk,” ujarnya kepada Tempo.

Seluas 200 hektar di atas, kapasitas PLTS terapung Sirata mencapai 193 megawatt (MW). Saking luasnya, mencakup tiga wilayah yaitu Purwakarta, Siangjur, dan Bandung Barat. Proyek ini dirancang untuk menyediakan listrik ke pulau Jawa dan Bali. Di tahun Ketika disetujui pada November 2023, pemerintah menyebut proyek panel surya di Waduk Siratha akan menjadi PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara.

Menurut Yuun, besarnya panel surya yang terapung dapat menghambat fotosintesis fitoplankton yang seharusnya menghasilkan oksigen. Hal ini dapat menimbulkan efek domino berkurangnya kandungan oksigen di waduk Sirata. Jika berlangsung lama dan menyebar maka kelompok organisme akuatik yang membutuhkan paparan sinar matahari langsung akan mati dan kandungan nitrogen di dalam air akan meningkat.

Senada dengan itu, aktivis iklim dan energi Greenpeace Hadi Priyanto menyebutkan ancaman gangguan biota akibat terhalangnya sinar matahari. Kecuali pemerintah mampu menjamin kualitas teknologinya, tidak ada potensi yang terbuang dari panel-panel tersebut. Menurut Hadi, logam pada panel PLTS terapung Sirata harus tahan korosi. Logam tersebut harusnya bisa bertahan hingga 20-30 tahun, apalagi jika diletakkan di danau air tawar, bukan air laut, sehingga berisiko menimbulkan korosi. “Asalkan tidak berbahaya seperti pecahan kaca.”

Baca Juga  Siswa SD Meninggal Setelah Jatuh dari Lantai 4, Dinas Pendidikan DKI Gelar Rehabilitasi Siswa dan Guru

iklan

PLTS Terapung Sirata menjadi salah satu proyek besar energi baru terbarukan (EBT). Dalam salah satu sesi debat Pilpres 21 Januari lalu, PLTS Sirata menghadirkan Calon Wakil Presiden Nomor Urut 2 Gibran Rakabuming Raka sebagai contoh transisi energi hijau. “Kita tidak perlu lagi bergantung pada bahan bakar fosil,” ujarnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif sebelumnya mengatakan kapasitas PLTS terapung Sirata bisa tumbuh hingga 1,2 gigawatt peak (GW) jika 20 persen dari total waduk Sirata termanfaatkan. Proyek tersebut dikatakan akan mencapai emisi net zero atau 245 gigawatt jam (GWh) emisi bersih per tahun dan berkontribusi pada pengurangan 214 ribu ton emisi karbon dioksida per tahun.

Arifin Tasrif dalam siaran persnya, Kamis, 9 November 2023 mengatakan, “PLTS terapung Sirata akan menjadi etalase percepatan transisi energi untuk mendukung pencapaian net zero emisi.”

Baca ulasan lebih mendalam tentang limbah PV surya Laporan Premium Tempo



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *